Pada suatu hari, saya diminta Ibu untuk menemani beliau berbelanja ke pasar  tradisional. Awalnya saya ragu untuk ikut, karna seperti yang kita ketahui kebanyakan pasar tradisional sudah tidak terawat dan sangat kotor ditambah dengan panasnya matahari yang membuat kepala pusing. Tetapi karna Ibu berencana berbelanja banyak, saya memutuskan untuk ikut menemani. Ternyata keputusan saya untuk ikut berbuah hasil, dari tempat seperti ini saya bisa mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga dan belum tentu bisa saya dapatkan ditempat lain.

Ketika sampai dipasar, Ibu memutuskan untuk membeli sebuah kelapa. Karna sudah terlalu siang, kami mempercepat langkah khawatir si penjual sudah kehabisan kelapa. Ketika sampai ditempat penjual kelapa, saya sangat heran karna melihat anak kecil yang menjaga tempat itu. Dia sudah mulai merapikan kelapa-kelapa tersebut, sepertinya sudah mau tutup. Ibu saya langsung memilih kelapa yang ingin dibeli. Ketika menyerahkan kelapa untuk dibersihkan, Ibu saya bertanya “sudah mau pulang ke rumah ya de?” anak itu menjawab “engga bu, disini aja”. Lalu Ibu bertanya lagi “ Bapak kemana de? Kamu bantu jaga setelah pulang sekolah?”. Sambil tersenyum si anak menjawab “Bapak sedang membeli kelapa untuk dijual lagi. Dan saya sudah tidak bersekolah. Bapak sebentar lagi juga pulang, kami kan tidur disini”. Mendengar jawaban itu, membuat saya tertegun beberapa saat dan muncul banyak pertanyaan dihati ini. Bagaimana bisa mereka tidur ditempat yang berukuran 2×2 m2 bersama tumpukan kelapa? Kalau anak ini tidak sekolah, bagaimana masa depannya nanti?  Disisi lain, saya merasa bersalah karena terkadang saya mengeluh terhadap keadaan, masih banyak menuntut berbagai macam hal. Padahal diluar sana, masih banyak yang memiliki nasib tidak seberuntung saya. Saat itu juga saya berpikir bahwa saya sangat beruntung bisa terlahir dalam keadaan seperti ini. Saya sangat kagum terhadap anak penjual kelapa tadi karna diusia yang jauh lebih muda dari saya, dia sudah menghadapi cobaan hidup yang luar biasa dan menjalaninya dengan penuh senyum.  Dia mau bekerja keras membantu orang tuanya, diusia yang seharusnya dia masih belajar dan bermain bersama teman-temannya tanpa memikirkan hal lain seperti kerasnya kehidupan.

Suatu hari, tampak seorang  pria muda tergesa-gesa memasuki sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke perutnya. Setelah memesan makanan, seorang anak penjual kue menghampirinya, “Om, beli kue  Om, baru matang dan enak rasanya!” “maaf de, saya ingin makan nasi saja,” kata si pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran. Melihat si pemuda telah selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar makanan berkata, “terima kasih de, tapi saya sudah kenyang.” Sambil terus mengikuti si pemuda, si anak berkata, “Kuenya bisa dibuat oleh-oleh pulang, Om.”

Dompet yang belum sempat dimasukkan ke kantong pun dibukanya kembali. Dikeluarkannya dua lembar ribuan dan ia mengangsurkan ke anak penjual kue. “Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap saja sedekah dari saya.” Dengan senang hati diterimanya uang itu. Lalu, dia bergegas ke luar restoran, dan memberikan uang pemberian tadi kepada pengemis yang berada di depan restoran. Si pemuda melihat kejadian itu. Dia merasa bingung dan sedikit tersinggung. Ia langsung menegur, “De, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain? Kamu berjualan kan untuk mendapatkan uang. Kenapa setelah uang ada di tanganmu, malah kamu berikan ke si pengemis itu?”

“Om, saya mohon maaf. Jangan marah ya. Ibu saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan atas jerih payah sendiri, bukan dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh ibu saya sendiri dan ibu pasti kecewa, marah, dan sedih, jika saya menerima uang dari Om bukan hasil dari menjual kue. Tadi Om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu.”

Si pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. “Baiklah, berapa banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh.” Si anak pun segera menghitung dengan gembira. Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, “Terima kasih Dik, atas pelajaran hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu.” “Terima kasih, Om. Ibu saya pasti akan gembira sekali, hasil kerja kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami.”

Dari cerita ini, saya bisa mendapatkan pelajaran tentang  perjuangan hidup yang terhormat. Walaupun mereka miskin harta, tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain. Tapi dengan bekerja keras, jujur, dan membanting tulang.